KUMPULAN CERITA DEWASA SETENGAH BAYA

Diposkan oleh Anak SMA on Sabtu, 07 Mei 2011

Dalam judul ~Kumpulan Cerita Dewasa~ Setengah Baya dengan Hewan ini, Saya mau nanya neh kepada para pecinta cerita Dewasa maniak.

"Adakah kata yang uwaneh pada Kumpulan cerita dewasa setengah baya dengan hewan diatas?"

Ehm, kalau kata kumpulannya anda tentu paham. Kata Cerita dewasa anda juga paham. Kalau Setengah Baya mungkin usia tante tante ya. Umuran 40 keatasan deh.

Lha trus hewannya?

Justru itu saya juga bingung apa yang terlintas di otak saya ya hingga menulis Kumpulan Cerita Dewasa setengah baya dengan Hewan.

Doh. Plaaak. Mangappp!
Anak SMA links to : Cerita Dewasa

Update! Kumpulan Cerita Dewasa Setengah Baya Terbarunya

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Pensiunan Ogah “Pensiun”


- Meski usia sudah 65 tahun, Sahrudin masih getol juga dalam urusan asmara. Maklum, biarpun sebagai PNS sudah pensiun, dalam urusan satu itu dia memang tak mau pensiun. Maka yang terjadi kemudian, Sahrudin digerebek polisi dan istrinya ketika kelonan dengan WIL-nya, yang katanya sudah dikawin siri.

Tidak semua orang bisa menyadari akan ketuaannya. Walaupun usia sudah kepala enam, tetap saja masih merasa muda. Maka bagi kalangan politisi, mumpung punya duit dan UU tidak melarang, majulah dia jadi calon presiden. Soal jadi atau tidak, itu urusan kedua. Yang penting maju. Bukankah kegagalan itu hanyalah sukses yang tertunda?

Sahrudin memang bukan politisi, dan duitnya juga hanya pas-pasan. Maka ketika dirinya masih merasa muda, dan gairah masih juga ada, dia hanya ingin jadi presiden rumahtangga jilid II. Maksudnya kawin lagi, begitu. Sayangnya, kemauan ada, tapi keberanian tiada. Sahrudin tahu persis bahwa istrinya sangat anti poligami, meski sering ke poliklinik lantaran sakit-sakitan.

Justru karena sering sakit itu, Maisaroh, 60, sebagai istri sudah tak bisa lagi menjalankan “kewajiban” istri secara optimal. Sahrudin yang masih merasa masih muda dengan sejuta gairahnya, memandang perlu menyacari solusi/penyaluran lain. Sejak itulah dia mulai menebar pesona, mememperluas cakrawala. Siapa tahu masih ada wanita yang siap diajak kerjasama nirlaba dalam urusan rumahtangga.

Sekian lama mencari sosok alternatif, akhirnya Sahrudin dapat juga janda muda, namanya Dewi, 40. Dalam usia kepala 4, dia memang masih kenceng-kencengnya dan nafsu-nafsunya. Ketika diajak nikah dengan si kakek, ternyata dia tak menolak, yang penting ada jaminan benggol (uang) dan bonggol. “Saya mau jadi istrimu, asalkan tugasku sekedar mamah dan mlumah,” begitu persyaratan Dewi.

Syarat-syarat Dewi kakek Sahrudin mampu memenuhi, tapi persyaratan izin dari istri pertama sebagai prosedur poligami, lha ini yang repot. Dan bisa dipastikan, merengek dan menangis dengan air mata darah, tak bakalan istri di rumah mengijinkan. Maka Sahrudin menawarkan opsi baru, mau tidak dikawin siri sja?

Lantaran sudah kepalang basah, Dewi pun tidak keberatan. Toh soal keturunan, dalam usia kepala 4 dia sudah tak berharap banyak. Yang penting kan penak, bukan anak. Maka diam-diam keduanya pun menikah siri. Sejak saat itu wajah Sahrudin ceria selalu. Soalnya meski di rumah nggak keurus, di tempat Dewi selalu terjamin. Ibatat mobil, dia bisa tune up dan sporing balansing kapan saja, meski “ban” miliknya sudah mulai gundul!

Tapi sebagai pensiunan keuangan Sahrudin sangat terbatas, sehingga dia tak bisa berlama-lama menjadi nakoda dua kapal. Karena keuangan mulai berkurang, dan suami juga jadi “jarum super”, penyelidikan pun mulai digelar. Hasilnya sangat mengejutkan, ternyata Sahrudin punya WIL di Mamajang, Makasar (Sulsel). Segera saja sang istri melapor ke Polsek Mamajang dan penggerebekan dilakukan.

Pensiunan dari kota Makasar ini pun digerebek di rumah WIL-nya. Ternyata benar, ketika pintu digedor polisi, Sahrudin – Dewi sedang bermesraan lazimnya suami istri. Keduanya pun digelandang ke Polsek. Dalam pemeriksaan keduanya mengaku sudah kawin siri. Maka polisi kemudian menjerat Sahrudin dengan pasal menikah lagi tanpa izin istri pertama.

Nikahnya saja tanpa izin, apa lagi kawinnya. (HS/Gunarso TS)


Mesum di Kompleks Guru


- Berani juga Maksum, 52, (bukan nama sebenarnya) menyatroni istri Hasan yang jadi pekerja di penggergajian kayu. Apa nggak takut digorok suami? Nggak tahulah, yang jelas aksi mesum sesama guru itu justru kepergok oleh para tetangga di komplek guru. Kini Maksum dan Ida, 35, (bukan nama sebenarnya) jadi urusan polisi Sambas (Kalbar).

Apalah artinya sebuah nama (what’s in a name?) begitu kata sastrawan Inggris William Shakespeare. Tapi bagi orang Islam, nama bisa dimaknai sebuah doa. Idem dito orang Jawa, memberikan nama anak Slamet, dengan maksud selamat terus. Nama Rejeki dengan maksud rejekinya terus berlanjut. Tapi ada juga, namanya Untung Raharjo tapi malah mati ketabrak truk.

Bagaimana dengan si Maksum, tapi malah ketangkap berbuat mesum? Jelas ini musibah. Karena dia seorang guru, namanya jadi musibah kuadrat. Soalnya, mau tidak mau seorang guru selalu diposisikan sebagai tokoh santun, karena dia pendidik para pewaris bangsa. Tapi sebagai manusia biasa yang punya nafsu aluamah dan supiah, tergoda rayuan setan anggota SPI (Satgas Penggoda Iman), sudahlah biasa.

Begitulah kisah Maksum yang suka begituan. Sebagai guru SD di lingkungan Dinas Pendidikan Sambas, dia punya teman sesama guru bernama Ida. Meski tidak satu sekolah, keduanya sering ketemu di dinas. Dari situlah urusan mulai berlanjut. Apa lagi setelah Maksum mengetahui bahwa Ida ini sering ditinggal suaminya, karena bekerja di penggergajian kayu di Sanggau.

Lho, apa hubungannya antara suami yang jarang pulang dan kedekatan Maksum dengan guru Ida? Secara umum, tidak ada. Tapi karena ini memang nggak umum, ya jadi ada, meski tak perlu diumum-umumkan untuk umum. Yang jelas, Pak Guru Maksum tahu bahwa Ida perempuan yang sangat kesepian gara-gara sering ditinggal suaminya di tempat kerja. “Maka Sum, berlomba-lombalah kamu dalam kemesuman…..” bujuk si setan anggota SPI.

Ida memang bukan perempuan kodian, baik penampilan maupun kedudukan. Cantik, pintar dan pendidik pula. Sayangnya, dia punya “lahan” jarang digarap karena Hasan suaminya selalu berkutat dengan mesin penggergajian. Maksum sebagai lelaki normal yang sudah berkoalisi dengan setan SPI, sangat berkeinginan memberikan “solusi” bagi bu guru Ida rekannya. Ternyata gayung pun bersambut, sehingga ketika situasi sangat mantap terkendali, Maksum sering memasok kebutuhan syahwat Ida di Kompleks Guru Sungai Tapah, Salatiga, Kalimantan Barat.

Beberapa hari lalu, di kala hujan baru saja reda, nampaklah Ida dibonceng pak guru Maksum menuju rumahnya di Sungai Tapah. Tanpa sengaja seorang warga melihat pemandangan itu. Mengingat dia tahu persis siapa suami Ny. Ida, dia lalu beryakwasangka bahwa lelaki itu pastilah PIL-nya. Iseng-isengpun dia lalu mengintip ruang tamu. Lho kok benar? Bagaikan burung balam ketemu jodohnya, Ida dan lelaki tamu itu langsung berpagutan dengan mesra.

Ketika Ida lalu menyeret tamunya ke dalam kamar, sang “mata-mata” ini lalu menghubungi Pak RT. Sejumlah orang diam-diam membentuk satgas pengintipan. Duh, duh, adegannya benar-benar seru. Di kamar itu Ida tengah disetubuhi oleh tamunya. Pantesan si tamu betah nggak pulang-pulang, karena dapat suguhan istimewa berupa selimut hidup.

Atas nama etika, setelah mereka selesai melepaskan hajatnya, pintu depan diketuk. Lamaaa, baru dibuka. Pak RT segera klarifikasi dan minta pertanggungan jawab apa yang diperbuat Ida dan tamunya beberapa menit lalu. Awalnya mereka membantah, tapi setelah ditunjukkan bukti bahwa aksi mereka dijadikan ajang nobar (nonton bareng), tamu si guru Maksum itu memohon kasusnya jangan diperpanjang. Tapi warga tak peduli, sehingga malam itu juga Maksum dan Ida dibawa ke Polsek Sambas untuk menjalani proses lebih lanjut.

Pak dan bu guru berbuat saru dan seru. (BP/Gunarso TS)


Investor Asing Untuk Istri



PADA era perdagangan global, masuknya investor asing sah-sah saja. Tapi jika istri hamil juga akibat “investor” asing, suami cap apa yang tak marah? Inilah nasib Daryoto, 35,(bukan nama sebenarnya) dari Lumajang (Jatim). Gara-gara menghamili istri Gondo, 32, (bukan nama sebenarnya teman sejawatnya, dia dianiaya hingga tewas.

Anak menjadi dambaan setiap keluarga. Tapi tak setiap rumahtangga bisa memperolehnya. Bisa karena senjata pamungkas suami tak berfungsi, bisa juga karena Gusti Allah durung marengke (Allah belum mengizinkan). Ironisnya, banyak juga terjadi, wanita yang belum punya suami, tiba-tiba hamil. Ini pasti karena “human eror” alias kesalahan manusia. Ini jelas, sebab kalau bukan orang salah, mana berani menghamili wanita yang bukan istrinya?

Ini problem yang sedang melilit keluarga Gondo, warga Lumajang (Jatim). Istri yang selama beberapa tahun tak juga punya momongan, tahu-tahu hamil. Padahal sebagai suami, Daryoto mengaku selama ini tak bisa menjalankan fungsinya sebagai pria sejati. Selera memang ada, karena dia juga suka merokok Gudang Garam. Tetapi ketika harus diwujudkan dalam karya nyata, Daryoto tak bisa berbuat apa-apa. Jadilah dia lelaki NATO (No Action Talk Only) alias ngomong doang!

Warni, 28, (bukan nama sebenarnya) sudah lima tahun menikah dengan Gondo. Tapi ternyata suami punya cacat permanen, tak bisa melakukan tugas suami paling hakiki, alias impoten. Jadi jika orang pada ribut soal penegakan hukum di negeri ini, dia memilih menyingkir saja, tak mau ikut angkat bicara. Soalnya ya itu tadi. “Buat apa saya ikut bicara soal penegakan hukum, wong soal penegakan burung saja tak mampu,” begitu alasan Gondo.

Menyadari akan segala kekurangannya, adalah perilaku bagus. Tapi Warni istrinya, mana mau hanya dengan kesadaran itu. Karena sebagai wanita normal sangat membutuhkan kehangatan pria sejati, dia kemudian mencari solusinya sendiri. Kebetulan teman suami yang bernama Daryoto suka main ke rumahnya, kepadanya lah dia kemudian mohon pertolongan. Tentu saja dengan cara yang penuh sandi, tapi mudah ditangkap setiap lelaki.

Awalnya Daryoto kaget juga akan sikap “genit” istri Gondo kawan sekantor itu. Tapi lelaki normal ditawari “barang bagus” macam Warni, bagaimana mau menolak? Terus terang saja, di rumah bini Daryoto hanya biasa-biasa saja. Sedangkan si Warni, ibarat mobil masih tangan pertama, cat mulus dan bodi kaleng semua. Soal surat-surat dijamin komplit. “Tapi buat apa, wong tidak akan balik nama, kecuali balik sprei saja….,” kata setan memberi semangat.

Jadilah Daryoto suka mengisi hari-hari sepi Warni. Di kala Gondo kerja banting tulang di kantor, dia di rumah bersama Warni “banting-bantingan” di atas ranjang. Pokoknya sama-sama asyik, sama-sama puas. Kebetulan pula rumah Gondo ini juga agak terpisah dari lingkungannya, sehingga ketika Daryoto rajin jadi kucing “nyolong dendeng”, tak ada yang memperhatikan.

Beberapa bulan kemudian ternyata menuai bukti. Istri yang selama ini tak pernah hamil, tahu-tahu lapor bahwa dalam kondisi berbadan dua. Tentu saja Gondo kaget. Setelah didesak-desak, akhirnya dia mengaku bahwa selama ini ada investor asing yang masuk. Siapa dia? Begitu Warni menyebut nama Daryoto, kemarahan Gondo tak bisa dibendung lagi. Hari itu juga Daryoto di kantornya dihajar habis-habisan dengan tusukan senjata tajam. Meski sempat dilarikan ke RSU Dr. Haryoto, nyawanya wasalam juga.

Undang investor tak pakai MOU, sih. (Sctv/Gunarso TS)


Nyosor Barang Bagus


DALAM usia 22 tahun, Agus (bukan nama sebenarnya), masih lolhak-lolhok (culun) dalam soal asmara. Disodori “barang bagus” milik perempuan 11 tahun di atasnya langsung saja nyosor. Padahal Ningrum, 33,(bukan nama sebenarnya) masih punya suami meski dalam proses cerai. Akibatnya, Agus digelandang ke kantor polisi seusai kencan tengah malam.

Banyak jalan banyak yang dilihat, kalau banyak main ke rumah wanita yang masih punya suami? Ya digerebek massa! Memang begitulah nasib Agus, warga Desa Talkandang, Kecamatan Situbondo (Jatim). Berulang kali masuk ke rumah istri Darwin, 37,(bukan nama sebenarnya) yang anggota polisi, dia langsung digerebek para tetangga, termasuk suami Ningrum. “Katanya sudah cerai dengan suami,” kata Agus saat digelandang ke Polres Situbondo.

Dalam usia 22 tahun, Agus memang tampak sudah sangat dewasa, karena bertubuh bongsor. Lebih-lebih dia bertampang cakep, sehingga banyak cewek yang naksir. Salah satunya adalah Ningrum, wanita pegawai bank di kota Situbondo. Begitu nepsongnya pada si Agus, dia sebagai perempuan justru yang aktif, sering nilpun dan mengajak kencan di rumah kontrakannya. Istilah sekarang, Ningrum mengacu pada sistem jemput bola.

Awalnya Agus di rumah Ningrum ya tampil biasa-biasa saja. Tapi begitu si perempuan mulai agresif dan menunjukkan “barang bagus” yang belum pernah dilihat dan dinikmati Agus, pria culun itu langsung terperangah. “Ayo, jangan takut-takut. Untukmu kuserahkan segalanya,” kata Ningrum seperti judul film Indonesia tahun 1980-an.

Selama ini Ningrum memang mengaku sudah cerai dari suaminya. Karenanya, begitu disodori “barang bagus” yang sudah bukan milik siapa-siapa lagi, langsung saja Agus nyosor. Lupa mana batal mana haram, pokoknya dia terus berpacu dalam birahi dengan pemandu Ningrum sendiri. Ternyata Agus memang lelaki cerdas, meski baru sekali praktek lapangan, langsung dapat nilai A.

Karena kelon dengan janda itu mengasyikkan, Agus jadi ketagihan. Sejak itu dia mondar-mandir ke rumah kontrakan Ningrum. Awalnya tetangga menduga bahwa anak muda itu adik atau saudara dekat tuan rumah. Tapi begitu sekali waktu berhasil memergoki mereka berbuat mesum, kewaspadaan pun mulai ditingkatkan.

Kebetulan sekali beberapa hari berikutnya ada polisi yang mencari-cari alamat Ningrum, ternyata dia suaminya. Makin kebetulan pula, malam itu Agus pas apel juga di tempat yang sama. Maka seperti sekali tepuk dua lalat, kamar Ningrum pun digerebek. Keduanya memang tak sedang berbuat, tapi satu ranjang bukan suami istri, apa pula itu namanya?

Ningrum – Agus segera dibawa ke Polres Situbondo. Dalam pemeriksaan baru terungkap bahwa Ningrum dengan suaminya memang dalam proses cerai. Tapi karena keduanya masih sah suami istri, Agus pun terkena pasal perzinaan karena menyetubuhi bini orang. Apa lagi dalam penggerebekan polisi juga menemukan bercak-bercak di sprei yang diduga keras itu sperma.

Lain kali, STNK/BPKB-nya cek dulu, jangan main cemplak. (DS/Gunarso TS)


Jatah Telat Kok Ngamuk


- Istri itu sebetulnya ibu rumahtangga atau sekedar pelayan seks suami sih? Marijo, 43, (bukan nama sebenarnya) dari Pacitan ini misalnya. Hanya karena kurang dapat “jatah” dari istri yang sibuk kerja, jadi cemburu dan ngamuk. Yang kasihan kan Lastri, 29, (bukan nama sebenarnya) ini; pulang kerja malam hari malah disambut pukulan suami bertubi-tubi.

Istri yang ideal adalah yang di rumah cuma mamah dan mlumah. Tapi yang begini kan hanya istri-istri kelasnya Nazarudin dan Gayus Tambunan, maksudnya: banyak duit. Keluarga kebanyakan sih, ketika gaji suami tak mencukupi ya terpaksa ikut bantu-bantu cari tambahan penghasilan. Walhasil, istri yang berkarier tak bisa maksimal memenuhi kodratnya sebagai ibu rumahtangga. Jelasnya, lantaran sudah sibuk menguras tenaga di luar, dia di ranjang tak bisa meladeni “tenaga kuda” suami.

Agaknya Lastri termasuk wanita bernasib demikian. Saat menjanda beberapa tahun lalu, dia mendambakan calon suami yang bonafid, yang kerja sebulan bisa dimakan setahun. Ternyata, saat menikah dengan duda Marijo yang PNS di kantor Pemda Pacitan, secara ekonomi tak ada perubahan. Suami memang hanya pegawai kecil, yang kerjanya iplik gajine cilik. Tapi karena sudah telanjur, mau bagaimana lagi. Apa mungkin, koalisi yang baru dibangun kok harus pecah kongsi?

Untuk menambah penghasilan, sesuai dengan keahliannya di bidang medis, Lastri lalu bekerja jadi perawat di puskesmas. Sore harinya nyambung lagi bekerja di klinik Jalan Veteran. Lantaran kerja yang dobel-dobel itu, dia baru tiba di rumah rata-rata setelah pukul 22.00. Tentu saja sangat capek, sehingga setelah makan malam Lastri langsung tidur, ngiler bikin peta Ilmu Bumi provinsi Jatim. Saat dicolek dan dibrengkal suami, sudah tak peduli lagi.

Karena terlalu sering dibegitukan, lama-lama Marijo menjadi curiga. Dia pun menduga-duga bahwa Lastri tak lagi peduli akan kewajibannya lantaran sudah punya PIL di luar, sehingga sudah memperoleh “pemenuhan” di jalur non reguler. Sebagai suami yang sayang istri, Marijo menjadi cemburu. Dia merasa ditanding-tandingkan, mentang-mentang gajinya kecil, dan istri sudah bisa cari duit sendiri.

Beberapa hari lalu kembali mendapatkan istrinya pulang di atas pukul 22.00. Lelaki dari Dusun Barang Desa Arjowinangun, Pacitan ini lalu menanyai istri, ke mana saja selama ini kok pulang telat terus? Tentu saja Lastri jadi tersinggung. Nggak diumumkan di koran, nggak diapload di internet, dari dulu juga tahu bahwa tiap sore kerja di klinik. “Ya wis, aku tak nang omah wae, ning blanjamu apa cukup (sudah, aku tak di rumah saja, tapi apa gajimu cukup)” tantang Lastri, mirip Krisdayanti saat hendak cerai dengan Anang.

Rasa cemburu Marijo berubah menjadi amarah yang tak terukur. Oo, begini kaum wanita. Jikalau punya penghasilan sendiri, jadi berani sama suami. Dia pun mengomel prat pret prot. Eh, Lastri menjawab pula prat pret protttt! Jari jemari di tangannya yang sudah mengepal itu langsung dilayangkan ke kepala istrinya, pletak, jedug…., karena membentur tembok. Lastri pun langsung menangis kelara-lara (meratap), sehingga jadi layatan para tetangga.

Tapi tak hanya selesai sampai di sini. Esuk paginya Lastri mengadu ke Polres Pacitan dengan mengusung pasal KDRT. Sesuai dengan laporan tersebut, polisi segera bergerak dan menangkap Marijo. Sesuai pasal 44 ayat1 UU no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, suami Lastri ini terancam hukuman penjara 5 tahun atau denda sebanyak Rp 15 juta.

Kalau punya duit, tambah Rp 15 juta, bisa mukul lagi. (HS/Gunarso TS)


Nasib Lelaki “Senior”


ENAKAN mana, lelaki “senior” dengan redaktur senior? Redaktur senior, masih terima gaji meski tak masuk tiap hari. Tapi kalau lelaki ‘senior”, masuk tiap hari ke kamar bini orang, ya digebuki! Dan inilah nasib Darsiman, 39,(bukan nama sebenarnya) warga Indramayu (Jabar), karena kepergok menyetubuhi bini Idrus, 37,(bukan nama sebenarnya) langsung dihajar dan diarak telanjang!

Awalnya, kata senior mengandung pengertian: lebih lama, lebih pengalaman. Tapi sesuai dengan tuntutan era gombalisasi, kata senior berubah makna sebagai: senang istri orang. Maka jangan bangga dulu bila disebut “senior”. Jangan-jangan itu bukan sebagai penghormatan, tapi malah pembunuhan karakter. Jika sejatinya tak seperti itu, boleh saja marah. Tapi jika aslinya lebih dari itu, beruntung hanya dibunuh karakternya.

Kalau si Darsiman dari Indramayu ini, sungguh “senior” yang asli. Karena berulang kali masuk kamar Ratih, 29, (bukan nama sebenarnya) ini Idrus tetangga sendiri. Di kala pihak yang berkompeten tak di rumah, diam-diam dia masuk ke kamar Ratih, dan terjadilah kemudian hubungan intim bak suami istri. Padahal Idrus si pemilik rumah memang sudah lama tak pulang, sehinga makin sering saja Darsiman menggauli bini orang.

Rumah tangga Ratih – Idrus memang sudah lama tidak harmonis, karena mereka memang juga belum pernah sampai Harmoni, Jakarta. Apa yang menjadi penyebabnya, tak pernah jelas. Yang pasti, sudah lebih dari 6 bulan Idrus meninggalkan tempat tinggalnya di Dusun Kedung Waru, Desa Drunten Wetan, Kecamatan Gabuswetan. Jarang sekali dia mengunjungi istrinya, baik itu dalam rangka setor benggol maupun bonggol.

Ratih sebagai wanita muda yang masih enerjik, sudah barang tentu merasa kedinginan “aset” miliknya distatusquokan begitu lama. Lalu munculah sosok Darsiman, lelaki tetangga yang ternyata selama ini menjadi pengamat wanita. Dia yang sudah lama ada minat pada Ratih, seakan memperoleh peluang emas melihat Idrus jarang sekali pulang ke rumah. Bahkan doa Darsiman selanjutnya, mendingan suami Ratih ini jadi Bang Toyib saja, yang tiga kali lebaran tak ingat anak istri.

Lelaki “senior” penuh bakat ini segera mendekati Ratih. Karena memang sudah lama kesepian, gayung pun segera bersambut. Bila sudah terjadi koalisi, apa lagi kelanjutannya jika bukan “eksekusi”? Maka Ratih – Darsiman pun malam itu menggelar aksi mesum perdananya. Praktek simbiosis mutualis (saling memberi dan menerima) itu berlangsung dengan khidmat dan memuaskan, dan sejak itu kegiatan tersebut menjadi sebuah rutinitas. Jika situasinya kondusif, Darsiman pasti “tune up” di kamar Ratih.

Keasyikan menjadi lelaki “senior”, Darsiman lama-lama kehilangan kewaspadaan nasionalnya. Nah, di saat keduanya bergulat antara hidup dan mati dalam kamar, eh……, unclug unclug Idrus masuk rumah. Alangkah kagetnya dia begitu melihat istrinya digituin lelaki tetangganya. Kontan dia berteriak maling, sambil terus menghajar Darsiman yang sedang ketanggungan. Tetangga pun segera berdatangan. Awalnya mereka berusaha melerai, tapi begitu tahu duduk persoalannya, langsung ikutan sekalian menggebui Darsiman.

Dalam kondisi babak belur dan bugil, lelaki “senior” itu diarak ke kantor polisi Polsek Gabuswetan. Karena luka-lukanya cukup serius dia dilarikan ke RS Bayangkara. Sedangkan Idrus kini masih dalam pemeriksaan. Sebab meski dia membela kehormatan keluarga, orang tetap dilarang main hakim sendiri. Karena bagaimana pun juga, hukum harus ditegakkan.

Ini semua gara-gara penegakan “burung” Darsiman! (JPNN/Gunarso TS)


Rok Pendek Pikiran Pendek


– Sungguh kasihan nasib gadis Sawitri, 19 (bukan nama sebenarnya) Gara-gara dia memakai rok pendek, menjadikan ayah tirinya berpikiran pendek. Dengan alasan untuk ritual penambah rejeki, Wahono, 54, (bukan nama sebenarnya) tega menyetubuhi anak tirinya sebanyak 15 kali. Tapi karena rejeki tak kunjung datang, menyanyilah dia bla bla bla…..!

Nyanyian itu biasanya selalu enak didengar, karena diciptakan oleh komponis yang ahlinya. Gara-gara nyanyian, orang bisa menangis karena ingat masa lalu yang kelabu. Tapi gara-gara nyanyian bertanda petik ala Nazarudin, banyak petinggi Partai Demokrat yang panas dingin. Lalu bagaimana dengan “nyanyian” gadis Sawitri yang mengaku digauli ayah tiri sebanyak 15 kali, woo….bikin Wahono gelisah tak bisa tidur sepanjang malam.

Ini memang kisah klasik tentang ayah tiri yang clutak (kurang ajar) pada anak bawaan istri. Kali ini aktornya adalah Wahono, warga Dusun Karangasem Desa Karangkliwon Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan (Jatim). Dia langsung menahan nafas manakala melihat Sawitri anak tirinya yang beranjak dewasa. Menyaksikan gadis itu mengenakan rok pendek, sehingga pahanya nampak demikian mulus, ukuran celananya kontan berubah.

Kebetulan Wahono berprofesi sebagai paranormal. Banyak orang percaya bahwa dia bisa menyembuhkan berbagai penyakit lewat terapi mistik. Berangkat dari nafsunya setiap melihat paha mulus anak tiri, dia mencoba menyelewengkan profesi itu demi kenikmatan jangka pendek. Prinsip Wahono kemudian, dengan kedok paranormal tersebut, dia harus bisa menyetubuhi Sawitri kapan saja dan di mana saja.

Sebagai teman serumah, tentu saja lobi-lobi politik Wahono menjadi demikian lancar. Di kala istri tak di rumah, dia menawarkan solusi untuk memperoleh rejeki banyak lewat terapi mistik. Karena Sawitri ingin membiayai studinya di SMA secara lancar, segera tertarik dengan propaganda ayah tirinya tersebut. “Saratnya gampang kok. Cuma dengan mandi kembang 7 rupa, semuanya jadi lancar,” bujuk Wahono.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, hari itu juga ritual mistik itu digelar. Sawitri dimandikan ayah tirinya dengan posisi bugil. Saat mulai terangsang, Wahono berbisik bahwa terapi lanjutannya adalah dengan persetubuhan bak suami istri. Sudah kepalang basah, akhirnya Sawitri melayani saja ajakan mesum tersebut. Bak seorang dokter saja, selesai “injeksi” Wahono memberikan sejumlah pantangan, di antaranya jangan makan ikan bandeng.

Sawitri memang pengemar ikan bandeng. Maka seperti lupa akan pantangan sang dukun, dia sekali waktu makan lagi ikan kegemarannya tersebut. Eh, ayah tirinya memergoki dan menganggap ritualnya kemarin batal terkena diskualifikasi. “Kamu harus saya setubuhi lagi,” ujar Wahono serius. Lantaran si gadis juga serius pengin dapat tambahan rejeki, dia langsung bertekuk lutut dan berbuka paha juga.

Ternyata Sawitri memang susah berpantang, sehingga sekian kali pula kena diskualifikasi dan harus disetubuhi ayah tirinya. Tapi lantaran sudah berulangkali digauli Wahono sedangkan hasilnya nihil, dia lalu mengadu pada ibunya. Wah, jelas urusannya jadi melebar ke polisi. Dalam pemeriksaan, ayah tiri itu hanya mengaku 4 kali menggauli, sedangkan Sawitri bersikukuh 15 kali. “Tur niku mboten penak, wong kula boten karep (itu juga tak nikmat karena saya tak minat),” ujar gadis itu polos. Karena pasalnya perkosaan, dalam sidang di PN Bangil Wahono divonis 9 tahun penjara.

Pengakuan tak klop, lalu yang 11 kali tanggungan siapa? (HS/Gunarso TS)


Liburan Penuh Asmara



- Sabdono, 28, (bukan nama sebenarnya) bukan pelajar SMA, tapi selalu berdoa agar sekolah banyak libur. Apa hubungannya? Ya iyalah, karena dengan hari libur itu dia lalu bebas menggauli Dewi, 19, (bukan nama sebenarnya) adik iparnya yang masih pelajar SMA. Tapi lelaki piktor ini kini masuk sel Polres Brebes (Jateng), karena menggauli adik iparnya sebanyak 4 kali.

Masa liburan merupakan hari-hari menyenangkan anak sekolah, termasuk juga para pengusaha angkutan dari pesawat hingga bis antarkota. Pelajar yang orangtuanya banyak duit, bisa jalan-jalan keluar kota. Pengusaha angkutan, bisa naikkan tarif dari harga biasanya. Hotel pun tak mau ketinggalan, di musim liburan harga kamar bisa dinaikkan hingga 25-50 persen. Mereka berhasil memanfaatkan masa libur itu jadi mesin uang bagi perusahaannya.

Yang aneh kan Sabdono, yang bukan pelajar bukan pula pengusaha, kok senang sekali dengan datangnya hari libur. Ada apa gerangan? Ternyata, dia memang memiliki alasan khusus. Katanya, di kala hari libur tersebut Dewi, sang WIL alias adik iparnya sendiri, banyak di rumah karena tidak sekolah. Nah, di masa-masa itulah dia bisa menyelingkuhi dengan aman. Di kala istri bekerja di pasar, dia di rumah asyik menyetubuhi Dewi kekasih gelapnya.

Sabdono memang lelaki celuthak (kurang ajar) di jamannya. Memiliki istri yang lumayan cantik, masih kurang juga. Tahu adik iparnya kini lebih menawan, pengin juga menjajalnya. Memangnya sepeda motor, apa? Tapi begitulah jalan pikiran Sabdono yang piktor alias pikiran kotor itu. Mana kala melihat lenggang-lenggok adiknya, pendulumnya langsung kontak. Apa lagi setan langsung ngompori. “Ipar itu bahasa Jawa-nya kan ipe, artinya iki ya penak (ini juga enak),” ujar setan yang juga lulusan Sastra Jawa itu.

Sebenarnya, hati nurani juga sudah mengingatkan, jangan memperturutkan kata hati, tidak baik. Tapi setan memang lebih kenceng menyatroni otaknya, sehingga jalan pikiran Sabdono menjadi lebih condong ke fraksi setan. Itu artinya, bila waktunya sangat kondusif, dia harus bisa menelateni Dewi si ipar yang berbodi seksi dengan betis mbunting padi itu.

Untuk urusan kejahatan, setan memang selalu di garda paling depan. Karenanya dia terus berusaha membantu dan mengujudkan tekad kroni barunya, Sabdono. Nah, di kala hari Minggu, di mana Dewi seharian di rumah, setan langsung merangsek masuk, manjing (masuk) ke bagian perangkat kerasnya paling sensitif. Intinya, dia lalu merayu-rayu Dewi agar mau diajak hubungan bak suami istri. “Jika menolak, kakakmu tak cerai, tahu rasa….”, ancam Sabdono.

Diembargo semacam itu, rupanya Dewi klipuk (tak berkutik) juga. Daripada rumahtangga berantakan, dia siap berkorban dengan aset miliknya yang sangat berharga tersebut. Dan siang itu, di kala istri masih sibuk jualan di pasar, di rumah Sabdono berhasil memerawani Dewi sang adik ipar. Namanya juga barang baru, tentu bagi Sabdono terasa lebih pulen bak beras rajalele made in Delanggu, Surakarta. Ibarat nasi pula, dia muluk (makan)-nya lahap banget, tanpa sayur dan lauk pun jadi!

Begitu “pulen”-nya Dewi, pada akhirnya Sabdono menjadi ketagihan. Setiap hari libur, dia sibuk menyetubuhi adik iparnya. Sampai-sampai dia punya usul, agar Dewi tak usah sekolah, biar bisa dikeloni kapan saja. Atau, kalau bisa usul sama sekolah agar diperbanyak hari liburnya. “Sana, sampeyan usul langsung ke Mendiknas M. Nuh….,” kata Dewi kesal.

Tapi kebejadan lelaki dari Bulakamba, Brebes ini harus berakhir, ketika Dewi capek melayani nafsu kakak iparnya, karena selalu dilakukan dengan tidak tenang, bahkan deg-degan. Dia pun mengadu pada kakaknya. Dan istri Sabdono itupun melapor ke polisi. Ironisnya, ketika diperiksa dia mengaku bahwa hanya 4 kali menyetubuhi Dewi, tidak lebih. Harapannya, dengan itu hukumannya bisa diperingan.

Sekali atau 100 kali, semuanya kena pasal 284 KUHP, mas! (SCTV/Gunarso RS)


Dukun Cabul Salah Terapi


CARI rujukan ke manapun pasti takkan ketemu, bahwa keterbelakangan mental bisa dilawan lewat hubungan seks. Dukun Sumadi, 35, (bukan nama sebenarnya) yang mencoba “terapi” itu akhirnya malah jadi urusan polisi. Sebab setelah diterapi olehnya, Tuwuh, 19,(bukan nama sebenarnya) hamil 4 minggu.

Keterbelakangan mental yang biasa disebut idiot atau pekok, memang belum ada obatnya. Keluarga yang memiliki keturunan semacam itu, harus siap membawanya ke sekolah SLB (Sekolah Luar Biasa) agar si anak cacat itu bisa diarahkan ke yang lebih baik. Kasarannya: pekok ya pekok, tapi sudah makan sekolahan.

Tuwuh, gadis warga Desa Popoh Kecamatan Selapuro, Blitar (Jatim), kebetulan mengalami cacat seperti itu. Sudah barang tentu keluarganya sangat berduka. Sebab bisa diramalkan, sibocah kelak akan kehilangan masa depan dan menjadi beban keluarga. Orang tua bisa mendampingi berapa lama? Jika sudah didatangi Yamadipati (baca: meninggal), mereka tak tahu lagi nasib si idiot sepeninggalnya.

Para tetangga yang kasihan lalu menyarankan agar dibawa ke dukun Sumadi di Doko. Kabarnya dukun ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Keluhan pasien apa saja bisa dilayani, asalkan bukan keluhan rande dit (tak punya uang). Soalnya, soal penyakit yang paling akhir itu di manapun terkena, termasuk yang nulis kolom ini.

Percaya publikasi tetangga, gadis Tuwuh dibawa keluarganya ke dukun Sumadi. Karena penyakit itu lumayan serius, si gadis diminta rawat inap alias ditinggal di situ. Keluarga pun bersedia, dan Tuwuh mulai dapat terapi macam-macam dari dukun Sumadi yang masih muda nan enerjik itu. “Empun tilar mawon, Insya Allah saged mantun (sudah tinggal saja, semoga bisa sembuh),” kata dukun Sumadi.

Ternyata terapi penyembuhan Sumadi sangat aneh. Bukan sekedar dimandikan kembang tujuh rupa, yang airnya diambil dari Lautan Teduh, tapi disuruh telanjang di kamar pasien. Namanya anak idiot, tentu saja Tuwuh pasrah tanpa kecurigaan. Kemudian ketika Sumadi menawarkan “persetubuhan ala suami istri” untuk penyembujhan , lagi-lagi Tuwuh hanya mengangguk saja. Ya sudah, Sumadi lalu bekerja gliyak-gliyak waton penak (kerja santai asal nyaman).

Dua bulan jadi pasien Sumadi, gadis Tuwuh tahu-tahu tidak mens. Dukun itu terperanjat akan eksperimen sendiri. Lha kok hamil, bagaimana ceritanya? Tapi sebagai dukun yang jantan, tidak sekedar punya alat kejantanan, dia segera mendatangi orangtua gadis dan minta maaf. “Nanging kula siap tanggeljawab” kata Sumadi dengan sikap jantan.

Jantan sih jantan, tapi jika anak idiot kok ditelateni, ini benar-benar kurang ajar. Makanya kelurga Tuwuh segera mengadu ke Polsek Doko, agar dukun cabul itu ditangkap. Dalam pemeriksaan Sumadi mengakui bahwa tak menyangka eksperimennya berakibat seperti itu. Tapi karena keluarga tak bisa diajak berdamai, ya sudah.

Eksperimen bukannya di loboratorium, malah di ranjang. (HS/Gunarso TS)


Nazaranti Doyan Minggat


- Nazaranti, 36, (bukan nama sebenarnya) sama Nazarudin ternyata sama, doyan minggat. Jikalau Nazarudin bikin kalangkabut Partai Demokrat, minggatnya Nazaranti bikin kelabakan Damiri, 38, (bukan nama sebenarnya) suaminya. Ternyata minggat wanita ini lantaran punya PIL. Paling tragis, saat Damiri minta klarifikasi malah ditusuk hingga mati.

Minggat adalah kata kasar untuk pergi tanpa pamit. Minggatnya Nazarudin mantan bendahara Demokrat misalnya, jelas banyak disumpahi orang, terutama oleh rekan-rekan separtai. Soalnya, selama dalam pelariannya di Singapuira dan kini entah di mana, dia banyak “menyanyikan” lagu-lagu tidak merdu, terutama tentang kenakalan petinggi-petinggi Demokrat. Pantas saja Pak SBY selaku petinggi partai perintahkan Kapolri untuk menangkapnya.

Minggatnya Nazaranti warga Palembang, juga bikin kesal keluarga, terutama suami. Gara-gara istri pergi berhari-hari, anak dan diri Damiri tidak keurus. Pernah dicari ke rumah orangtuanya, tapi ternyata tidak ada. Benar-benar Nazaranti bagaikan hilang ditelan bumi.

Lalu ada saksi mata yang mengatakan bahwa Nazaranti pernah terlihat dengan lelaki lain. Jangan-jangan dia pergi bersamanya. Kalau benar, itu artinya istri sudah berani main selingkuh. Kenapa dia pergi dengan lelaki bukan muhrimnya, tanpa seizin suami pula. Dan jikalau benar selingkuh, apa pula yang dijadikan alasan? Sepengetahuannya, Damiri bisa menafkahi Nazaranti lahir batin secara adil, selaras, serasi dan seimbang sebagaimana kata manggala BP-7 jaman Orba.

Setelah berminggu terjadi “gencatan senjata” di rumah, Damiri dapat titik terang yang ternyata paralel dengan informasi sebelumnya. Kata saksi mata pula, Nazaranti kini berada di Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati, Kota Palembang. Diduga keras itu adalah rumah gendakannya. “Mumpung belum kabur ke tempat lain seperti Nazarudin, buruan disusul…..,” kata orang yang memberi info.

Karena info itu lengkap dengan RT/RW segala, sepertinya A-1 betulan. Maka Damiri pun menyusul ke TKP (Tempat Kejadian Perselingkuhan). Ternyata betul. Nazaranti istrinya berada di rumah seorang lelaki yang diduga keras selingkuhan alias PIL-nya. Sebagai lelaki yang cukup sabar, Damiri pun segera mengajak istrinya kembali ke rumah, karena anak dan dirinya sudah kangen.

Tapi ternyata Nazaranti juga sama ngeyelnya dengan Nazarudin, nggak mau pulang juga. Sebagai suami Damiri mencoba menunjukkan kewibawaannya. Dengan kata-kata keras dan tegas, dia memaksa sang istri pulang. Tapi jawabannya sungguh di luar dugaan. Bukan ambil tas lalu jalan bersama, tapi justru ambil pisau dan langsung ditusukkan ke dada suaminya. Seketika itu juga Damiri terjungkal, wasalam di rumah orang.

Kini Nazaranti diamankan di Polsek Kertapati. Dalam pemeriksaan polisi, Nazaranti mengakui Damiri cemburu karena dia punya PIL. Ketika suami marah-marah dan memaksa pulang, dia mencoba melawan. Suami istri ini lalu bergulat, bukan di ranjang, tapi di lantai. Pisau yang diam-diam sudah disiapkan itu langsung ditusukkan ke dada suamijnya. Wasalamlah Damiri meregang nyawa.

Waktu jemput Nazarudin, apa Sutan Batugana nggak seberani Damiri? (JPNN/Gunarso TS)

sumber : http://www.poskota.co.id/tag/nah-ini-dia
Anda sedang membaca artikel blog anak sma anak smu 3gp video tentang KUMPULAN CERITA DEWASA SETENGAH BAYA dan anda bisa menemukan artikel KUMPULAN CERITA DEWASA SETENGAH BAYA ini dengan url http://anakku-sma.blogspot.com/2011/05/kumpulan-cerita-dewasa-setengah-baya.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel KUMPULAN CERITA DEWASA SETENGAH BAYA ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link KUMPULAN CERITA DEWASA SETENGAH BAYA sumbernya.
Loading...